KITAB UL KABAIR PDF

Semakin jauh jarak sebuah umat dengan mereka, maka semakin beragam pula bentuk penyimpangan mereka. Secara kualitas maupun kuantitas tidak kita dapatkan pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh manusia di sepanjang masa yang lebih parah dari zaman ini, bahkan dosa - dosa besar sudah menjadi aktivitas rutin mereka sehari - hari. Diantara mereka yang berbuat ada yang tidak mengerti hukum dan akibatnya, dan ada pula yang telah mengerti namun meremehkannya, padahal jelas bahwa semua dosa besar merupakan penyebab siksa dan ancaman di akhirat yang tak seorangpun mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah. Banyak diantara ulama baik salaf maupun k halaf yang mengumpulkan hadits - hadits tentang dosa besar dan agar senantiasa waspada dan berhati - hati agar tidak terjerumus dalam murka Allah dan laknat-Nya yang mengerikan.

Author:Dokinos Shakall
Country:Turks & Caicos Islands
Language:English (Spanish)
Genre:Sex
Published (Last):25 August 2012
Pages:341
PDF File Size:9.92 Mb
ePub File Size:8.34 Mb
ISBN:387-2-58735-736-3
Downloads:50826
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gagore



Al-Imam Adz-Dzahabi sangat terkenal dan meninggalkan warisan ilmiyah yang luar biasa banyak dan dituangkan dalam karya tulisnya yang mencapai sembilan puluh buku dalam berbagai bidang seperti hadits, sejarah, biografi para ulama dan lain-lain. Kitabul Kabair adalah termasuk buku beliau yang terkenal dan banyak dirujuk. Buku ini menyodorkan antara peringatan, nasehat dan terapi bagi permasalahan-permasalahan yang menimpa umat untuk kemaslahatan dunia akherat.

Yakni tentang dosa-dosa besar, masalah-masalah haram, dan larangan-larangan, yang bila kita tidak tahu sangat mudah untuk menerjang. Allah berfirman, "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dosa-dosamu yang kecil dan Kamu masukkan kamu ke tempat yang mulia surga. Kita mendapatkan para ulama berbeda pendapat tentang dosa-dosa besar itu; di antara mereka da yang mengatakah tujuh.

Dalil yang menguatkan pendapat ini adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan. Pengertiannya adalah bahwa barangsiapa melakukan biang dosa-dosa ini, di mana pada dosa-dosa tersebut terdapat hukuman hudud di dunia, sebagaimana membunuh, zina, dan mencuri, atau terdapat ancaman berupa siksaan dan murka di akhirat, atau pelakunya mendapatkan laknat melalui lisan Nabi kia Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, itulah dosa-dosa besar.

Pengertian inilah yang dipegang oleh penulis kitab ini, yakni dosa besar adalah semua jenis kemaksiatan yang padanya berlaku hukum hudud di dunia atau ancaman di akhirat,dan kemudian beliau mengangkat tujuh puluh masalah dosa. Penulis Adz-Dzahabi memulai pembahasan dari dosa besar yang paling besar yakni syirik kepada Allah yang dapat menyebabkan pelakunya kekal di neraka, ditolak semua amalnya dan tidak akan pernah diampuni selama-lamanya.

Kemudian memasukkan masalah seperti membunuh, sihir, meninggalkan shalat, tidak mengeluarkan zakat, buka puasa di bulan ramadhan tanpa udzur, mendurhakai orang tua, mengadu domba, ingkar janji, dan lain sebagainya yang berjumlah tujuh puluh. Adapun masalah terakhir yang disampaikan adalah tentang menghina shahabat nabi. Dalam buku Al-Kabair ini, tergambar bahwa Adz-Dzahabi sangat peduli terhadap berbagai kemaslahatan, pelurusan aqidah serta moral manusia. Disajikan dengan gaya bahasa ilmiyah yang sangat mudah.

Dapat dibaca oleh kalangan awam maupun ulama. Sangat cocok sebagai peringatan bagi orang yang lengah dan bingung, disamping sebagai rambu-rambu pemandu jalan menuju keridhaanNya. Jika ada dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Dengan kata lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan. Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda materi.

Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu, menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa al-zanb , karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub dosa yang paling jelek atau paling besar. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek termasuk zina.

Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali.

Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar.

Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah tauhid mengesakan Allah. Oleh karena ajaran tauhid paling penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar.

Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah. Pengertian melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan.

Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan.

Yang disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini.

Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa besar. Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur.

Oleh karena dasar untuk mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain.

Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar.

Oleh karena itu hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini. Ayat ini membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf tuduhan palsu , mencuri, pengacau di jalan, liwath homo seksual.

Kata had berasal dari kata kerja hadda. Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Kemudian muncullah istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.

Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan liwath homoseksual dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh.

Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga. Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan perzinaan.

Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat.

Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali hukuman had , kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat.

Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar. Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan pelanggaran. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang saksi. Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti zina.

Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut.

Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat memahaminya dengan arti zina.

Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari orang-orang beriman.

Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar.

Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah.

Hati mereka pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima ayat-ayat Allah. Hasad, kalau begitu, adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan Allah.

Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu.

75 MANAGEMENTKENGETALLEN PDF

The Chief Sins: Translation of Kitab al-Kabair of Al-Dhahabi

.

KUMAON KA ITIHAS BOOK PDF

Download Kitab Terjemahan Al - Kabair - Imam adz - Dzahabi

.

FLUGPLAN AUSTRIAN AIRLINES PDF

Kitabul Kabair by Allama Imam Muhammad bin Ahmad Zahbi

.

Related Articles