KETAKSAAN MAKNA PDF

Pengertian dan jenis-jenis Makna Kata dalam Bahasa Oleh Muchlisin Riadi Posting Komentar Ilustrasi Makna Kata Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu Tjiptadi, Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu. Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian makna kata, yakni makna donatif, makna konotatif, makna leksikal, makna gramatikal.

Author:Kisida Gabei
Country:Lithuania
Language:English (Spanish)
Genre:Art
Published (Last):10 July 2008
Pages:340
PDF File Size:10.24 Mb
ePub File Size:17.46 Mb
ISBN:449-6-99684-543-2
Downloads:16586
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Visar



Sehubungan dengan ketaksaan ini kempson yang di kutip oleh Ullmann dalam Djajasudarma menyebutkan tiga bentuk utama ketaksaan, ketiganya berhubungan dengan fonetik, gramatikal, dan leksikal. Ketaksaan Fonetis Ketaksaan pada tataran fonologi fonetik muncul akibat berbaurnya bunyi-bunyi bahasa yang dilafalkan. Kata-kata yang membentuk kalimat bila dilafalkan terlalu cepat, dapat mengakibatkan keragu-raguan akan maknanya.

Ketaksaan fonetik ini terjadi pada waktu pembicara melafalkan ujarannya. Seorang kapten pesawat terbang dapat merasa ragu, apakah fifteen ataukah fifty, yang dapat membahayakan pesawat dan seluruh awaknya, serta penumpangnya. Oleh karena itu, untuk menghindari ketaksaan, si pendengar memohon kepada pembicara untuk mengulangi apa yang diujarkannya.

Ketaksaan Gramatikal Ketaksaan gramatikal muncul pada tataran morfologi dan sintaksis. Dengan demikian, ketaksaan gramatikal ini dapat dilihat dengan dua alternatif. Pertama, ketaksaan yang disebabkan oleh peristiwa pembentukan kata secara gramatikal. Alternatif kedua adalah ketaksaan pada frasa yang mirip. Setiap kata membentuk frasa yang sebenarnya sudah jelas, tetapi kombinasinya mengakibatkan maknanya dapat diartikan lebih dari satu pengertian.

Tono, anak Tata, sakit Tono yang sakit 2. Tono, anak, Tata, sakit tiga orang yang sakit 3. Ketaksaan Leksikal Setiap kata dapat bermakna lebih dari satu, dapat mengacu pada benda yang berbeda, sesuai dengan lingkungan pemakaiannya.

Segi pertama polisemi, Breal di dalam Ullmann , misalnya, kata haram di dalam bahasa Indonesia bisa bermakna: 1. Segi kedua adalah homonim adalah kata-kata yang sama bunyinya. Segi kedua ini tidak akan menimbulkan ketaksaan bila dilihat pemakaiannya di dalam konteks. Djajasudarma menyebutkan beberapa kekaburan makna dapat muncul akibat dari, antara lain: a. Sifat kata atau kalimat yang bersifat umum generik. Misalnya, kata buku yang memiliki makna ganda; kalimat Ali anak Amat sakit belumlah jelas kepada kita siapa yang sakit, tanpa dibarengi unsur suprasegmental yang jelas.

Kata atau kalimat tidak pernah sama seratus persen. Kata akan jelas maknanya di dalam konteks, meskipun kadang-kadang konteks itu kabur bagi kita.

Batas makna yang dihubungkan dengan bahasa dan yang di luar bahas tidak jelas. Misalnya, sampai di mana batas kata pandai itu.

Kurang akrabnya kata yang kita pakai dengan acuannya referentnya. Apa yang dimaksud dengan kata demokrasi, politik, dan apa pula maknanya demokrasi terpimpin itu? Kekaburan makna dapat dihindari dengan memperhatikan penggunaan kata di dalam konteks atau ditentukan pula oleh situasi, sebab ada kata-kata khusus yang digunakan pada situasi tertentu.

Di dalam hal ini perkembangan meliputi segala hal tentang perubahan makna baik yang meluas, menyempit, atau yang bergeser maknanya. Bahasa mengalami perubahan dirasakan oleh setiap orang, dan salah satu aspek dari perkembangan makna perubahan arti yang menjadi objek telaah semantik historis.

Perkembangan bahasa sejalan dengan perkembangan penuturnya sebagai pemakai bahasa. Kita ketahui bahwa penggunaan bahasa diwujudkan dalam kata-kata dan kalimat. Pemakai bahasa yang menggunakan kata-kata dan kalimat, pemakai itu pula yang menambah, mengurangi atau mengubah kata-kata atau kalimat. Jadi, perubahan bahasa merupakan gejala yang terjadi di dalam suatu bahasa akibat dari pemakaian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Gejala perubahan makna sebagai akibat dari perkembangan makna oleh para pemakai bahasa. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia. Sejalan dengan hal tersebut karena manusia yang menggunakan bahasa maka bahasa akan berkembang dan makna pun ikut berkembang. Faktor-faktor yang disebutkan merupakan hal yang dapat mengakibatkan perubahan makna, perluasan makna, pembatasan makna, dan pergeseran makna, yang terangkum di dalam perkembangan makna.

Perubahan Makna Faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan makna antara lain sebagai akibat perkembangan bahasa. Perubahan makna dapat pula terjadi akibat: 1 faktor kebahasaan linguistic causes , 2 faktor kesejarahan historical causes , 3 sebab sosial social causes , 4 faktor psikologis psychological causes yang berupa: faktor emotif, kata-kata tabu: 1 tabu karena takut, 2 tabu karena kehalusan, 3 tabu karena kesopanan, 5 pengaruh bahasa asing 6 karena kebutuhan akan kata-kata baru Sebab lain linguistis berhubungan dengan faktor kebahasaan, baik yang ada hubungannya dengan fonologi, morfologi, atau sintaksis.

Sebab historis adalah hal-hal yang berhubungan dengan faktor kesejarahan perkembangan kata. Kata tersebut masuk ke dalam bahasa Indonesia pada waktu perang Inggris dengan Argentina. Setelah tahun kata gerombolan enggan dipakai, bahkan ditakuti. Dewasa ini kata simposium lebih menitikberatkan pada diskusi, membahas berbagai masalah dalam bidang ilmu tertentu. Kebutuhan akan kata baru sebagai akibat perkembangan pikiran manusia. Kebutuhan tersebut bukan saja karena kata atau istilah itu belum ada, tetapi orang merasa perlu menciptakan istilah baru untuk suatu konsep.

Misalnya, kata anda muncul karena kurang enak bila mengatakan saudara. Demikian pula kata yangdirasakan terlalu kasar, seperti kata bui, tutupan, atau penjara diganti dengan lembaga pemasyarakatan, konsepnya pun berubah, bukan saja menahanseseorang, tetapi menahan dan menyadarkan mereka agar dapat menjalankanfungsi kemanusiaan yang wajar bila kembali ke masyarakat.

Perubahan Makna dari Bahasa Daerah ke dalam Bahasa Indonesia Perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, sebagai contoh misalnya kata seni yang kemudian di dalam bahasa Indonesia bermakna sepadan dengan bahasa Belanda kunst. Bagi masyarakat Melayu kata seni lebih banyak dihubungkan dengan air seni atau air kencing.

Selanjutnya, Kata-kata daerah yang masuk ke dalam bahasa Indonesiayang dirasakan tidak layak diucapkan bagi suatu daerah, tetapi tidak demikian bagi daerah lainnya, dan lama-kelamaan mungkin tidak dirasakan lagi ketakutan untuk mengungkapkannya, seperti pada ekspresi berikut.

Bila dirasakan tidak layak karena alasan makna yang berasal dari bahasa daerah, maka hal tersebut akan diganti dengan bentukan berikut. Melihat kenyataan di atas, perubahan makna dapat terjadi pada kosakata bahasa daerah yang dipungut bahasa Indonesia. Perubahan Makna Akibat Lingkungan Lingkungan masyarakat dapat menyebabkan perubahan makna suatu kata. Katayang dipakai di dalam lingkungan tertentu belum tentu sama maknanya dengan kata yang dipakai di lingkungan lain.

Misalnya, kata seperti cetak, bagi yang bergerak di lingkungan persuratkabaran, selalu dihubungkan dengan tinta,huruf, dan kertas, tetapi bagi dokter lain lagi, dan lain pula bagi pemain sepak bola. Seperti pada ekspresi bahasa berikut. Perubahan Makna Akibat Pertukaran Tanggapan Indera Sinestesi adalah istilah yang digunakan untuk perubahan makna akibat pertukaran indera.

Pertukaran indera yang dimaksud, misalnya antara indera pendengardengan indera penglihat, indera perasa dengan indera penglihat. Contoh-contohberikut adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pancaindera.

INTRODUCTION TO GPS-THE GLOBAL POSITIONING SYSTEM BY AHMED EL-RABBANY PDF

Pengertian dan jenis-jenis Makna Kata dalam Bahasa

Sehubungan dengan ketaksaan ini Kempson yang dikutip oleh Ullmann dalam Djajasudarma menyebutkan tiga bentuk utama ketaksaan, ketiganya berhubungan dengan fonetik, gramatikal, dan leksikal. Ketaksaan ini muncul bila kita sebagai pendengar atau pembaca sulit untuk menangkap pengertian yang kita baca, atau yang kita dengar. Berikut akan dibahasa ketiga jenis ketaksaan yang disebutkan terdahulu, yaitu ketaksaan fonetis, ketaksaan gramatikal, dan ketaksaan leksikal. Ketaksaan Fonetis Ketaksaan pada tataran fonologi fonetik muncul akibat berbaurnya bunyi-bunyi bahasa yang dilafalkan. Kata-kata yang membentuk kalimat bila dilafalkan terlalu cepat, dapat mengakibatkan keragu-raguan akan maknanya. Ketaksaan fonetik ini terjadi pada waktu pembicara melafalkan ujarannya.

AND THERE WAS LIGHT JACQUES LUSSEYRAN PDF

JENIS KETAKSAAN MAKNA

.

KETAKSAAN MAKNA PDF

.

Related Articles